Al-Quran

8.06.2010

Perjalanan ke Thaif

Bukhari meriwayatkan dari Urwah, bahwa Aisyah ra. isteri Nabi SAW bertanya kepada Nabi SAW katanya: 'Adakah hari lain yang engkau rasakan lebih berat dari hari di perang Uhud?' tanya Aisyah ra. 'Ya, memang banyak perkara berat yang aku tanggung dari kaummu itu, dan yang paling berat ialah apa yang aku temui di hari Aqabah dulu itu. Aku meminta perlindungan diriku kepada putera Abdi Yalel bin Abdi Kilai, tetapi malangnya dia tidak merestui permohonanku! 'Aku pun pergi dari situ, sedang hatiku sangat sedih, dan mukaku muram sekali, aku terus berjalan dan berjalan, dan aku tidak sadar melainkan sesudah aku sampai di Qarnis-Tsa'alib. Aku pun mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku terlihat sekumpulan awan yang telah meneduhkanku, aku lihat lagi, maka aku lihat Malaikat jibril alaihis-salam berada di situ, dia menyeruku: 'Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu tadi, dan apa yang dijawabnya pula. Sekarang Allah telah mengutus kepadamu bersamaku Malaikat yang bertugas menjaga bukit-bukit ini, maka perintahkanlah dia apa yang engkau hendak dan jika engkau ingin dia menghimpitkan kedua-dua bukit Abu Qubais dan Ahmar ini ke atas mereka, niscaya dia akan melakukannya!' Dan bersamaan itu pula Malaikat penjaga bukit-bukit itu menyeru namaku, lalu memberi salam kepadaku, katanya: 'Hai Muhammad!' Malaikat itu lalu mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh Malaikat Jibril AS tadi. 'Berilah aku perintahmu, jika engkau hendak aku menghimpitkan kedua bukit ini pun niscaya aku akan lakukan!' 'Jangan... jangan! Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun... !', demikian jawab Nabi SAW.

Musa bin Uqbah menyebut di dalam kitab 'Al-Maghazi' dari Ibnu Syihab katanya, bahwa Rasulullah SAW apabila pamannya, Abu Thalib, meninggal dia keluar menuju ke Tha'if dengan harapan agar penduduknya akan melindunginya di sana. Maka beliau menemui tiga pemuka Tsaqif, dan mereka itu bersaudara, yaitu: Abdi Yalel, Khubaib dan Mas'ud dari Bani Amru. Beliau menawarkan mereka untuk melindunginya serta mengadukan halnya dan apa yang dibuat oleh kaumnya terhadap dirinya sesudah kematian Abu Thalib itu, namun bukan saja mereka menolakbeliau, tetapi mereka menghalaunya dan memperlakukan apa yang tidak sewajarnya.(Fathul Bari 6:198 - dari sumber Ibnu Ishak, Shahjh Bukhari 1:458, dan berita ini dikeluarkan juga oleh Muslim dan Nasa'i).

Abu Nu'aim memberitakan dengan lebih lengkapl dari Urwah bin Az-Zubair ra. katanya: Apabila Abu Thalib meninggal, maka semakin bertambahlah penyiksaan kaum Quraisy ke atas Nabi SAW Maka beliau berangkat ke Tha'if untuk menemui suku kaum Tsaqif dengan harapan penuh, bahwa mereka akan dapat melindunginya dan mempertahankannya. Beliau menemui tiga orang dari pemuka suku kaum Tsaqif, dan mereka itu pula adalah bersaudara, yaitu: Abdi Yalel, Kbubaib dan Mas'ud, semua mereka putera-putera dari Amru, lalu beliau menawarkan dirinya untuk diberikan perlindungan, di samping beliau mengadukan perbuatan jahat kaum Quraisy terhadap dirinya, dan apa yang ditimpakan ke atas pengikut-pengikutnya. Maka berkata salah seorang dari mereka: Aku hendak mencuri kelambu Ka'bah, jika memang benar Allah mengutusmu sesuatu seperti yang engkau katakan tadi?! Yang lain pula berkata: Demi Allah, aku tidak dapat berkatakata kepadamu, walau satu kalimah sesudah pertemuan ini, sebab jika engkau benar seorang Utusan Allah, niscaya engkau menjadi orang yang tinggi kedudukannya dan besar pangkatnya, tentu tidak boleh aku berbicara lagi kepadamu?! Dan yang terakhir pula berkata: Apakah Allah sampai begitu lemah untuk mengutus orang selain engkau? Semua kata-kata pemuka Tsaqif kepada RasuluUah SAW itu tersebar dengan cepat sekali kepada suku kaumnya, lalu mereka pun berkumpul mengejek-ngejek beliau dengan kata-kata itu.

Kemudian ketika beliau hendak pergi meninggalkan Tha'if itu, mereka berbaris di tengah jalannya dua barisan, mereka mengambil batu, lalu melempar beliau, setiap beliau melangkahkan kakinya batu-batu itu mengenai semua tubuh beliau sehingga luka-luka berdarah, dan sambil mereka melempar, mereka mengejek dan mencaci. Setelah bebas dari perbuatan suku kaum Tsaqif itu, beliau terlihat sebuah perkebunan anggur yang subur di situ. Beliau berhenti di salah satu pepohonannya untuk beristirahat dan membersihkan darah yang mengalir dari kaki dan tubuhnya yang lain, sedang hatinya sungguh pilu dan menyesal atas perlakuan kaum Tha'if itu.

Tidak lama kemudian terlihatlah Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah yang baru sampai di situ. Beliau enggan datang menemui mereka, disebabkan permusuhan mereka terhadap Allah dan RasulNya dan penentangan mereka terhadap agama yang diutus Allah kepadanya. Tetapi Utbah dan Syaibah telah menyuruh hamba mereka yang bemama Addas untuk datang kepada beliau membawa sedikit anggur untuknya, dan Addas ini adalah seorang yang beragama kristen dari negeri Niniva (kota lama dari Iraq). Apabila Addas datang membawa sedikit anggur untuk beliau, maka beliau pun memakannya, dan sebelum itu membaca 'Bismillah!' Mendengar itu Addas keheranan, kerana tidak pernah mendengar orang membaca seperti itu sebelumnya.

'Siapa namamu?' tanya Nabi SAW 'Addas!' 'Dari mana engkau?' tanya beliau lagi. 'Dari negeri Niniva!' jawab Addas. 'Oh, dari kota Nabi yang saleh, Yunus bin Matta!' Mendengar jawaban Nabi itu, Addas menjadi lebih heran dari mana orang ini tahu tentang Nabi Yunus bin Matta? Dia tidak sabar lagi hendak tahu, sementara tuannya Utbah dan Syaibah melihat saja kelakuan hambanya yang terlihat begitu mesra dengan Nabi SAW itu. 'Dari mana engkau tahu tentang Yunus bin Matta?!' Addas keheranan. 'Dia seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama kepada kaumnya,' jawab beliau. Beliau lalu menceritakan apa yang diketahuinya tentang Nabi Yunus AS itu, dan sudah menjadi tabiat beliau, beliau tidak pernah memperkecilkan siapa pun yang diutus Allah untuk membawa perutusannya. Mendengar semua keterangan dari Rasulullah SAW Addas semakin kuat mempercayai bahwa orang yang berkata-kata dengannya ini adalah seorang Nabi yang diutus Allah. Lalu dia pun menundukkan kepalanya kepada beliau sambil mencium kedua tapak kaki beliau yang penuh dengan darah itu.

Melihat kelakuan Addas yang terakhir ini, Utbah dan Syaibah semakin heran apa yang dibuat sang hamba itu. Apabila kembali Addas kepada mereka, mereka lalu bertanya: 'Addas! Mari ke mari!' panggil mereka. Addas datang kepada tuannya menunggu jika ada perintah yang akan disuruhnya. 'Apa yang engkau lakukan kepada orang itu tadi?' 'Tidak ada apa-apa!' jawab Addas. 'Kami lihat engkau menundukkan kepalamu kepadanya, lalu engkau menciurn kedua belah kakinya, padahal kami belum pemah melihatmu berbuat seperti itu kepada orang lain?!' Addas mendiamkan diri saja, tidak menjawab. 'Kenapa diam? Coba beritahu kami, kami ingin tahu?' pinta Utbah dan Syaibah. 'Orang itu adalah orang yang baik, dia menceritakan kepadaku tentang seorang Utusan Allah atau Nabi yang diutus kepada kaum kami, 'jawab Addas. 'Siapa namanya Nabi itu?' 'Yunus bin Matta' jawab Addas lagi. 'Lalu?' 'Dia katakan, dia juga Nabi yang diutus!'Addas berkata jujur. 'Dia Nabi?!' Utbah dan Syaibah tertawa terbahak-bahak, sedang Addas mendiamkan diri melihatkan sikap orang yang mengingkari kebenaran Allah. 'Eh, engkau bukankah kristen?' 'Benar,'jawab Addas. 'Tetaplah saja dalam kristenmu itu! Jangan tertipu oleh perkataan orang itu!' Utbah dan Syaibah mengingatkan Addas. 'Dia itu seorang penipu, tahu tidak?!' Addas terus mendiamkan dirinya . Sesudah itu, Rasuluilah SAW kembali ke Makkah dengan hati yang kecewa sekali. (Dala'ilun-Nubuwah, hal. 103)

Surat Balasan Heraklius

Di dalam versi yang dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad dan Abu Ya'la dari Said bin Abu Rasyid, katanya: Aku pernah menemui orang Tanukhi (dari negeri Tanukh) yang menjadi utusan Heraklius kepada Rasulullah SAW di Himsh (Syam), dan ketika itu dia seorang yang sudah sangat tua, dan dia tetanggaku maka aku berkata kepadanya:

"Bolehkah engkau ceritakan kepadaku tentang surat kiriman Heraklius kepada Nabi SAW dan surat Beliau yang dikirimkan kepada Heraklius", aku membujuknya. "Boleh", jawabnya singkat. Orang tua itu lalu bercerita, katanya: Bila Rasulullah SAW tiba di Tabuk, Beliau mengutus Dihyah Al-Kalbi ra. kepada Heraklius, pembesar Romawi. Apabila surat Rasulullah SAW itu sampai ke tangan Heraklius, dipanggilnya semua rahib-rahib gereja dan pendetanya. Bila semua mereka telah hadir ditutupnya semua pintu-pintu, dan tinggallah kami bersama dengannya.

Heraklius berkata: "Utusan ini datang kepada kita, sebagaimana kamu sekalian melihatnya, dan dia menyeruku untuk memilih salah satu dari tiga perkara berikut: Dia menyeruku untuk mengikuti agamanya, ataupun membayar upeti Jizyah dari hasil negeri kita, sedang negeri ini tetap di bawah kekuasaan kita, ataupun kita menemui mereka di medan perang! Demi Allah, kamu semua telah mengetahui dari apa yang kamu baca di dalam kitab-kitab kamu, bahwa kamu akan dikalahkannya. Maka lebih baiklah, kita mengikut agamanya, ataupun kita berikan saja upeti dari hasil harta kita"! Semua yang berkumpul di situ tidak senang dengan kata-kata Heraklius itu, muka mereka merah padam kerana marah.

Mereka berkata: "Apakah engkau mengajak kita untuk meninggalkan agama Kristen, supaya kita menjadi hamba kepada si orang badui yang datang dari negeri Hijaz itu?" Heraklius terkejut mendengar tentangan keras dari ahli-ahli agama itu. Dia kini yakin, bila mereka keluar dari pertemuan itu, tentu mereka akan sebarkan berita itu di luar kepada penguasa-penguasa negara, dan tentulah dia akan diturunkan dari kerajaannya. Maka segeralah dia berkelit: "Eh, nanti dulu! Jangan terburu nafsu!" kata Heraklius mempertahankan dirinya. "Sebenarnya aku katakan begitu hanya untuk menguji pendirian kamu, apakah kamu tetap teguh atas agama kamu itu?!" sambungnya lagi.

Kemudian Heraklius memanggil seorang Arab berbangsa Tujib yang memang menganut agama Nasrani dari kaum Arab Kristen, lalu dia memerintahkan: "Tolong carikan bagiku", kata Heraklius, "seorang yang pandai berbicara bahasa Arab, yang lidahnya lidah orang Arab. Bawa dia ke mari untuk membawa surat jawabanku kepada si orang badui itu".

Berkata orang tua dari Tanukhi itu memberitakan peristiwa lama yang dialaminya, katanya: "Aku pun dibawa kepada Heraklius lalu dia menyerahkan kepadaku sepucuk surat yang ditulis di atas tulang, lalu dia berkata pula: "Bawalah suratku ini kepada orang yang mengaku Nabi itu", kata Heraklius. "Tetapi dengar baik-baik apa yang dikatakannya, dan ingat tiga hal berikut ini, jika dia sebutkan.

Perhatikan jika dia menyebut sesuatu tentang surat yang dikirimkan kepadaku, dengar apa komentarnya? Perhatikan bila dibacakan suratku kepadanya, apakah dia akan menyebut perkataan malam! atau tidak? Dan yang terakhir, coba berusaha sampai engkau dapat melihat di belakang tubuhnya, adakah suatu tanda yang menarik perhatianmu?! Ingat baik-baik tiga perkara ini, dan beritahu apa yang engkau lihat kepadaku!" pesan Heraklius dengan hati-hati.

Aku pun berangkat pergi membawa surat Heraklius itu, hingga aku tiba di Tabuk. Di situ aku bertanya kepada para sahabatnya: "Di mana ketua kamu, yang dikatakan Nabi?" tanyaku. "Di sana itu! Yang sedang duduk dikelilingi orang", jawab mereka. Aku lihat Nabi SAW itu sedang duduk di tepi takungan Air, di mana dia telah dikelilingi oleh para sahabatnya. Aku pun maju ke depan, lalu mereka memberikanku tempat di depannya, bila diketahuinya aku datang sebagai utusan dari Heraklius. Aku pun menyerahkan surat itu kepadanya, dan diletakkan surat itu di atas pangkuannya.

Kemudian dia berkata kepadaku: "Dari mana engkau?" "Aku orang Tanukh!" jawabku. "Maukah engkau kembali kepada agama yang suci dari kepercayaan nenek moyang kamu Ibrahim (AS)?" tanya Nabi SAW kepadaku. "Aku ini utusan sebuah negara dan menganut agama negara itu, tidaklah wajar aku mengubah agamaku ini sehinggalah aku kembali kepada mereka dulu!" jawabku dengan jujur. "Memang benar Tuhan telah mengatakan: Sesungguhnya engkau, hai Muhammad, tidak mampu memberikan petunjuk kepada siapa yang engkau suka, akan tetapi Allah-lah yang akan memberikan petunjuk itu kepada siapa yang disukai-Nya, dan Dia adalah lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk itu!" Nabi SAW terlihat kesal sekali, apabila orang menolak untuk menerima Islam. Aku berdiam diri saja, tidak tahu apa yang mesti aku katakan lagi.

"Hai saudara dari Tanukh!" tiba-tiba Nabi SAW menyeruku. "Aku telah menulis surat kepada Kisra (Pembesar Parsi), lalu suratku dikoyak-koyakkannya, kelak Allah akan mengoyak-ngoyakkannya dan kerajaannya", Nabi SAW berdiam sebentar. Kemudian menyambung lagi: "Dan aku menulis surat kepada Pembesarmu, maka dia masih ragu-ragu lagi, dan orang ramai masih boleh membuat alasan (tidak tahu) selama kehidupan mereka aman tenteram". Nabi SAW berhenti sebentar.

Mendengar ucapan Beliau tadi aku berkata kepada diriku: Nah, salah satu dari tiga yang dipesan oleh Heraklius supaya aku ingat baik-baik. Aku pun keluarkan sarung isi panahku, lalu aku catat pada kulitnya. Kemudian Beliau menyerahkan surat Heraklius itu kepada seorang yang duduk di kirinya untuk dibacakannya. Aku lalu membisik orang yang di sebelahku bertanya: "Siapa dia orang yang akan membaca surat Heraklius itu?" "Mu'awiyah!" jawab mereka.

Tiba-tiba dalam surat pembesarku Heraklius ada sebutan mengajak ke syurga yang luasnya seluas petala langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa". Kemudian ada bertanya: "Di mana letaknya neraka? Bila mendengar saja bunyi pertanyaan itu, Nabi SAW pun menjawab: "Subhanallah!, ajaib sekali pertanyaan ini?!" ujar Nabi SAW "Jadi di manakah malam bila datang siang?!" tanya Beliau. Aku berkata pada diriku: Ini satu lagi dari ucapan Beliau yang mesti aku catat. Beliau telah menyebut malam, yang mesti aku sampaikan kepada Heraklius nanti. Sesudah selesai dibacakan kepada Beliau surat yang aku bawa itu, Beliau lalu berkata kepadaku: "Engkau patut diberi hadiah kerana engkau utusan kepada kami", ujar Beliau. "Kalau kami ada hadiah, tentu kami akan berikan kepadamu. Akan tetapi kami sekalian adalah orang-orang musafir yang memyimpan bekal yang terbatas", jelas Beliau.

Tiba-tiba terdengar suatu suara dari hadapan Beliau, suara salah seorang sahabatnya: "Aku yang akan memberikannya hadiah, jika engkau benarkan, ya Rasulullah!" Orang itu lalu mengeluarkan dari bungkusannya sepasang pakaian kuning dan diletakkannya di pangkuannya. Lalu aku bertanya ingin tahu: "Siapa yang menghadiahkanku pakaian ini?" "Usman!" jawab mereka. Kemudian Rasulullah SAW berkata pula: "Siapa suka menerima orang ini sebagai tamunya?" "Saya!" kata seorang pemuda dari kaum Anshar. Orang Anshar itu pun bangun mengajak aku pergi.

Apabila aku hampir meninggalkan majlis Nabi SAW itu, Beliau memanggilku pula seraya berkata: "Hai saudara dari Tanukh!", kata Nabi SAW. Aku pun segera mendekatinya sehingga aku berdiri di sisinya. Beliau lalu menarik pakaiannya sehingga terbuka bagian belakangnya, sambil berkata kepadaku: "Mari ke sini, tunaikanlah tugasmu, sebagaimana yang disuruh oleh tuanmu!" kata Beliau. Maka terlihatlah padaku apa yang bertanda di belakang badannya itu, yaitu semacam cap (khatamun-nubuwah) di bagian atas bahunya seperti tanda bulat

(Al-Haitsami: Ma'ma'uz-Zawa'id 8:235-236; Al-Bidayah Wan-Nihayah 5:15)

12.15.2009

wudhu' yang sempurna.


"Bagaim ana wudhu' zahir dan batin?" cuba pratikkan

cid:1.2112243193@web24906.mail.ird.yahoo.comcid:2.2112243194@web24906.mail.ird.yahoo.com
Seorang ahli ibadah bernama Isam Bin Yusuf, sangat warak dan khusyuk
solatnya. Namun, dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk
dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya,
demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasainya kurang khusyuk.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang ab id bernama Hatim Al- As sam
dan bertanya, "Wahai Aba Abdurrahman, bagaim ana kah caranya tuan solat?"

Hatim berkata, "Ap ab ila masuk waktu solat, aku berwudhu' zahir dan batin."

Isam bertanya, "Bagaim ana wudhu' zahir dan batin itu?"

Hatim berkata, "Wudhu' zahir sebagaim ana biasa iaitu membasuh semua anggota wudhu' dengan air".

Sementara wudhu' batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :-
* Bertaubat
* Menyesali dosa yang telah dilakukan
* Tidak tergila-gilakan dunia
* Tidak mencari/mengharap pujian orang (riya')
* Tinggalkan sifat berbangga
* Tinggalkan sifat khi ana t dan menipu
* Meninggalkan sifat dengki.


Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat.

Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku rasakan:
1.aku sedang berhadapan dengan Allah,
2.Syurga di sebelah kananku,
3.Neraka di sebelah kiriku,
4.Malaikat Maut berada di belakangku, dan
5.aku bayangkan pula aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Siratal mustaqim' dan
menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhir bagiku,
kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik."

"Setiap bacaan dan doa didalam solat, aku faham maknanya kemudian aku
rukuk dan sujud dengan tawadhuk, aku bertasyahud dengan penuh
pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat
selama 30 tahun."


Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya
yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.


"Bertakwalah kepada ALLAH di mana kau berada & sambunglah perbuatan jahat itu dgn melakukan kebaikan supaya terhapus (kejahatannya), & bergaullah sesama manusia dgn budi yg baik (akhlak yg baik)."
[ Riwayat At-Tirmidzi ]

Matahari semakin dekat.

Subhanallah……

Matahari dari dekat (5,000 KM)

Imej matahari yang paling jelas diperolehi oleh Royal Swedish Academy Of
Science pada 14 nov 2002 melalui Swedish Solar Telescope

j

Sebagai Renungan:
Diriwayatkan bahawa Rasululallah pernah menceritakan betapa asalnya kejadian api di dunia ini.
Setelah nabi adam dihantar ke dunia kerana kesalahanya memakan buah larangan maka Allah swt telah memerintahkan Jibril as supaya mengambil api dari neraka untuk dihantar ke dunia untuk kegunaan nabi adam as. Maka jibril as pun diperintahkan untuk meminta api tersebut daripada malaikat penjaga api neraka iaitu Zabaniah.

Jibril: wahai zabaniah, aku diperintah untuk mengambil sedikit api neraka untuk dihantar ke dunia bagi kegunaan adam as.

Zabaniah: sebanyak mana sedikit itu ?

Jibril: sebesar kurma...

Zabaniah: kalau sebesar buah kurma api neraka itu engkau bawa nescaya akan cairlah tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi akibat kepanasanya.

Jibril: kalau begitu berilah aku sebesar separuh dari buah kurma...

Zabaniah: kalau sebesar separuh buah kurma api neraka ini engkau letakan di dunia nescaya tidak akan turun walaupun setitik hujan dari langit dan tidak ada suatu pun tumbuhan akan tumbuh di bumi nanti..

Memandangkan keadaan yang rumit ini maka jibril as pun menghadap Allah untuk mendapatkan saiz yang perlu dihantar ke dunia. Allah swt pun memerintahkan supaya jibril mengambil sebesar ZARAH sahaja dari api neraka untuk dibawa ke dunia. Maka jibril as pun mengambil api neraka sebesar zarah dari zabaniah tetapi oleh kerana kepanasan yang keterlaluan api neraka sebesar zarah itu terpaksa disejukan dengan mencelupnya sebanyak 70 kali ke dalam sungai di syurga dan sabanyak 70 buah sungai. = 70 x 70

Selepas itu jibril as pun membawa api itu turun ke dunia dan diletakan di atas sebuah bukit yg tinggi, tetapi sejurus setelah diletakan tiba-tiba bukit itu terus meleleh cair maka cepat-cepat jibril mengambil semula api tersebut dan dihantar semula ke neraka.

Hanya sisa-sisanya sajalah yang terdapat di dunia ini seperti api yang sering kita gunakan untuk berbegai keperluan dan juga api yang terdapat di gunung berapi dan lain lain lagi.

PENGAJARAN: Bayangkanlah kepanasan api neraka yg sebesar zarah yang terpaksa disejukan dalam 70 buah sungai dengan sebanyak 70 celup setiap sungai dan hanya sisanya saja itupun manusia tidak dapat bertahan akan kepanasanya bagaimana dengan api di neraka itu sendiri.
SEBESAR ZARAH SAHAJA.

Rasulullah s.a.w. bersabda,

maksudnya:

"Sesungguhnya orang yang paling aku kasihi di sisiku ialah seorang mukmin yang keadaannya serba sederhana,

tetapi rajin mengerjakan solat (wajib dan sunat), dia baik dalam beribadah kepada Tuhan dan selalu taat kepadaNya

secara diam-diam"

(Riwayat Tarmizi)

Rasulullah s.a.w. bersabda

maksudnya:

"Sesungguhnya orang yang sangat aku kasihi dan terdekat padaku di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya.

Dan orang yang sangat aku benci dan terjauh daripadaku pada hari kiamat ialah orang yang banyak bercakap,

sombong dalam percakapannya dan berlagak menunjukkan kepandaiannya"

(Riwayat Tarmizi)

Rasulullah s.a.w. bersabda

maksudnya:

"Barangsiapa yang bertaubat kepada Allah selagi belum

terbit matahari dari arah barat, maka Allah menerima taubatnya"

(Riwayat Muslim)

Rasulullah s.a.w. bersabda

maksudnya:

"Ingatlah kepada Allah dalam masa senangmu,

nescaya Dia akan mengingatimu di masa susah"

(Al-Hadith)

8.19.2009

solat

"Ku hadapkan wajahku ke Wajah Tuhan Pencipta langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musryik".

Ketika seorang prajurit telah berdiri dihadapan sang jendral, maka ketentuan protokoler yang harus dilakukan adalah berdiri tegap dengan sikap sempurna lalu memberikan hormat. Bukan sebaliknya, memberi hormat dulu baru kemudian dia berjalan menghadap jendralnya.

Demikian pula seharusnya yang harus dilakukan shalat. Shalat hakikatnya adalah perjumpaan dengan Allah. Setelah berjumpa lalu apa? Disitulah peran syariat yang berfungsi mengatur tata krama dalam perjumpaan itu.

Kita sering sekali sibuk mempelajari ketentuan dalam syariat tetapi lupa mempelajari bagaimana kita menghadap Nya. Kita sibuk mengamalkan bacaan dan gerakan tetapi lupa dengan mendekatkan diri kepada Nya.

Mulailah shalat dengan menghadapkan diri kita kepada Nya.

Berdirilah santai. Kendorkan seluruh tulang dan otot. Arahkan jiwa kita menuju kepadanya. Bukalah kesadaran, bahwa Dia sangat dekat. Tidak perlu kita mencari Nya kemana-mana. Kita hanya perlu berserah diri dan membuka hati agar Dia menyambut kehadiran kita. Tunggulah sampai terasa ada kesambungan jiwa. Biarkanlah sampai rasa itu semakin pekat dan tarikan semakin kuat. Sampai terasa Dia ada.

Rasakan lalu bertakbirlah untuk menyatakan kebesaran Nya. Al Fatihah untuk menyapa Nya. Rukuk untuk menghormati Nya. I'tidal untuk memuji Nya. Sujud untuk menyembah Nya. Duduk untuk memohon kepada Nya. Tahiyyad untuk menghormati Nya. Jika sudah selesai, sampaikan salam, tebarkanlah daya keselamatan, rahmat dan keberkahan yang telah kita terima dari Allah Swt keseluruh alam semesta.

Baiki cara solat khas utk perempuan


Baru saja lepas mendengar ceramah ustazah Hjh Siti Khadijah Din sebentar tadi. Rasa terlalu bernilai ilmu yg dicurahkan beliau , rugi kalau tak dikongsi bersama. Topik adalah mengenai adab2 solat. Setelah mengikuti kuliah beliau (2 minggu sekali) selama beberapa bulan yg lepas , baru kini timbul kesedaran betapa solat yg saya dirikan terlalu rendah kualitinya.

Bagaimana bisa solat berkenaan diterima Allah...umur dah lanjut macam ni pun solat masih di peringkat mediocre , itu pun kalau boleh di kategorikan begitu. Secara ringkasnya , sebelum memulakan solat , penceramah mencadangkan kita mengambil 2 minit untuk "menyediakan diri" sblm menghadap Yg Esa.

2 perkara yg elok dilakukan sebelum berniat utk solat...sewaktu kita berdiri tegak sblm lafaz niat :

1. Minit pertama - Membangkitkan rasa KEHAMBAAN dlm diri kita. Kenangkan kembali dosa2 kita , betapa kerdil dan hinanya kita , seolah2 tak layak utk diberi peluang menghadap yg Esa. Pendek kata , kutuk diri sendiri dan menyesallah.

2. Minit kedua - Membangkitkan rasa BERTUHAN. Betapa kita diciptakan oleh yg Esa utk beribadat kepadaNya. Kenangkan betapa bersyukurnya kita d ijadikan sbg seorg Islam , mempunyai Tuhan yg begitu menyayangi hamba2nya yg hina ini lebih daripada seorg ibu menyayangi anaknya.

Setelah dilakukan kedua2 perkara ni , barulah kita niat solat dan mengangkat takbir. Berniatlah dlm keadaan berdiri tegak , bukan sambil membetul2kan kain sembahyang , telekung dan sebagainya. Fokus. Setelah bertakbir , penceramah menunjukkan pula cara2 solat yg betul , penuh adab dan sopan , sesuai dgn keperibadian kita sbg wanita dan selayak2nya adab utk menghadap Tuhan.

1) Mengangkat takbir - ada 3 cara mengangkat takbir : i. Dgn meletakkan kedua2 ibu jari di bawah cuping telinga ii. Dgn meletakkan kedua2 jari telunjuk di bawah cuping telinga iii. Mengangkat kedua2 tgn sehingga ke paras dada (bukan telinga).

Perlu diingatkan , kedua2 lengan hendaklah dirapatkan ke badan. Menurut penceramah , syaitan2 yg berupa kambing hitam gemar bergayut2 dicelah lengan(bawah ketiak) utk mengganggu solat kita , oleh itu sekiranya kedua2 lengan dirapatkan , tiada ruang utk mereka.

2) Qiyyam - cara qiyyam yg betul ialah memposisikan tgn kiri ke atas sikit dari pusat (bukan menutup pusat) sambil ibu jari dihalakan ke atas , seolah2 menyentuh ulu hati. Tangan kanan diletakkan di atas tgn kiri agak2 selesa. Pastikan kedua2 lengan adalah rapat mendekati badan.

3) Rukuk - peralihan dari posisi qiyyam kepada rukuk dilakukan dgn penuh tertib dan sopan. Kedua2 tgn melurut peha dgn perlahan dan berhenti di atas lutut. Pastikan badan kita di dlm posisi sudut tepat (90 darjah). Siku juga dirapatkan ke badan dan sudut tepat.

4) 'Iktidal - tegakkan badan semasa membaca "Sami Allahuliman hamidah..." dan mengangkat tgn posisi takbir ketika membaca "rabbanaa lakal hamdu"

5) Sujud - sujud dari segi istilah ialah "penyerahan diri yg tertinggi". Tertib sujud ialah dgn meletakkan kedua2 lutut ke lantai , baru diikuti tapak tgn dan seterusnya dahi. Kedua2 tgn dirapatkan di bhgn bawah sedikit dari ibu jari , di mana ada sedikit terbuka di antara kedua2 tgn dan di situlah dahi diletakkan. Jgn sujud terlalu jauh ke
hadapan kerana dikhuatiri akan melebihi lebih dari anggota sujud yg 7 iaitu dahi , kedua tapak tangan , kedua lutut and kedua belah kaki (setakat jari shj).Ibu jari kaki dilentur sedikit agar menghala ke kiblat.


6) Duduk antara 2 sujud - ada 2 cara : i. Papan punggung diletakkan diatas kedua2 kaki ii. Papan punggung lebih diberatkan atas kaki kiri dan kaki kanan dilentur agar ibu jari menghadap kiblat.

7) Bangun selepas sujud - duduk sebentar sebelum bangun , bukan dlm keadaan bangun menungging. Sekiranya menghadapi kesulitan utk bangun , gunalah tgn kanan utk membantu kita bangun atau kedua2 tgn.

8) Tahiyyat - mengangkat telunjuk pada ketika menyebut "....illallahh..." ( "laa ilaa ha ILLALLAH") Jari telunjuk itu jangan diturunkan sehingga memberi salam.

9) Salam - tidak perlu ditundukkan muka sebelum memberi salam. Menoleh sejauh mungkin sehingga 180 darjah ke belakang kerana malaikat ramai di sekeliling kita. Begitu juga ketika menoleh ke kiri. Tidak salah jika bahu dialihkan sedikit bagi membolehkan kita menoleh sehingga 180 darjah.Semasa menoleh ke kanan , alihkan sedikit bahu kiri dan sebaliknya.

10) Berdoa sesudah solat - seelok2 duduk ialah dgn melapikkan papan punggung dgn kedua2 kaki. Tgn diangkat separas dada dan berdoalah dlm keadaan tunduk sedikit kerana sekiranya kita berdoa dgn tgn yg tinggi dan mendongak ke langit , itu melambangkan sifat bongkak. Ingatlah , kita sedang menghadap yg Esa.

Seterusnya sebelum selesai ceramah , ustazah sempat mengingatkan para hadirin bahawa kain yg digunakan ukt solat juga perlu menepati ciri2 yg tertentu. Antaranya:

1) Tidak jarang. Rata2 kain telekung masa kini adalah jarang. Sekiranya kita memakai kain yg jarang dan dapat dilihat tengkuk dan warna kulit , maka solat kita tidak sah. Seelok2nya carilah kain telekung yg tidak jarang (antara caranya ialah dgn menggunakan 2 lapis kain).


Ataupun , pakailah anak telekung atau tudung labuh di dlm dan pastikan sewaktu di rumah , apabila kita solat cuma dgn berbaju sleeveless di dlm telekung , pastikan bahu dan tgn tidak kelihatan warna kulit jika diamati dari luar telekung.

2) Kadang2 sewaktu musafir , ada muslimah yg malas membawa kain solat , sekadar membawa telekung shj (tak payah org lain , saya pun begini). Apabila tiba waktu solat , cuma kain di badan shj digunakan dan bagi menutupi kaki , kita memakai stokin. Cara ini memang tidak salah , tapi pastikan stokin yg dipakai tidak jarang. Ingatlah sewaktu kita sujud , kain stokin itu akan menegang (stretch) dan manalah tahu , terdedah aurat kita ketika itu lalu tidak sahlah solat. Sebaik2nya pakai stokin yg
tebal (ustazah mencadangkan stokin yg lazim dipakai ketika bersukan) ataupun jika tiada , pakai 2 lapis.


3) Adakain telekung yg indah bersulam dan berkerawang. Ada yg berlubang2 sehingga di belakang telekung. Adakalanya , bagi mereka yg rambut
pjg , jika tidak ditutup betul2 dgn serkup/anak telekung , rambut2 ini akan terkeluar2 di celah2 kerawang telekung. Oleh itu , berhati2lah. Sama2lah
kita berusaha memperbaiki solat kita kerana ia adalah tiang agama.


Pertama sekali yg akan dihisab di akhirat kelak ialah solat kita. Solat yg baik akan melahirkan peribadi yg baik. Saya akui , terasa agak berat. Pengalaman saya , oleh kerana telekung saya agak jarang , saya kini memakai tudung labuh di dlm telekung setiap kali solat sambil berazam utk membeli telekung yg lebih baik kualitinya. Walaupun kadang2 terasa panas ketika solat saya gagahkan juga. Yg penting , saya mencuba seboleh2nya untuk mendapatkan solat yg diterima Allah , walaupun dari
segi khusyuk solat , saya masih merangkak. Yg penting , kita kena ingat , inilah sebahagian persediaan kita utk akhirat , jadi biarlah berbaloi. Jgn pula nanti kita dihisab pula kerana solat yg tak sempurna. Biar susah sekarang , jgn susah di alam baqa'.

Sekian saja yg dapat saya kongsi bersama. Sekira2 ada salah dan silap , harap dimaafkan. Segala yg baik itu dtg dari Allah s.w.t. dan yg buruk itu dari saya.

Wassalamu.

** Dari Abdullah bin 'Amr r.a. , Rasulullah S.A.W. bersabda , Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat.. **

Hayya alash sholaa
Hayya alal falaa

6.30.2009

Kehidupan akhirat yang kekal!

Hidup di dunia adalah tumpangan sementara waktu saja. Lepas itu kita akan menginap di satu tempat yang kekal di akhirat iaitu syurga atau neraka.

Di dunia, kita ditugaskan mencari seberapa banyak bekal untuk dibawa ke akhirat. Dunia bukan tempat bersenang-lenang. Kesenangan di dunia sementara dan bersifat palsu. Begitu juga dengan kesusahan di dunia - sementara dan palsu.

Perlulah kita fahami bahawa kesenangan di dunia bukan betul-betul senang kerana kemungkinan sekali ia menjadi bala, sementara kesusahannya pula mungkin menjadi satu rahmat dan kenikmatan pula. Dunia adalah tempat kita ditipu dan menipukan.

Akhirat sahaja tempat yang kekal di mana kesenangannya adalah mutlak 100% dan kesusahannya juga 100%. Menyedari hakikat ini, perlulah kita menyediakan perbekalan untuk satu perjalanan yang sangat jauh. Kekurangan bekalan akan amat menyulitkan perjalanan kita.

Dalam menjalani kehidupan seharian, kita sering lupa akan matlamat kehidupan kita yang sebenarnya. Lantaran itu Allah seringkali memberi peringatan (notis) supaya kita tidak lupa akan matlamat penghijrahan kita ke alam Baqa'. Notis demi notis dikenakan ke atas diri kita, tetapi kita tidak faham-faham atau tidak erti bahasa dan gembira malah semakin besar tawanya. Kalau TEN memberi notis pemotongan elektrik, kita menjadi kelam-kabut, tetapi bila Allah menghantar notis, kita buat acuh-tak-acuh saja.

Nabi Musa pernah memberitahu Malaikat supaya segera memberitaunya sebelum mencabut nyawanya. Tetapi tatkala akan diambil nyawanya, Nabi Musa bertanya kenapa Malaikat itu tidak memberitaunya lebih awal. Malaikat segera menjawab, Allah telah banyak kali menghantar peringatan demi peringatan.

Di antara peringatan (notis) yang dihantar oleh Allah ialah semasa pertukaran rambut hitam menjadi putih, gigi menjadi rongak, mata bertambah kabur, pendengaran bertambah kurang, badan segar menjadi layu, kuat menjadi lemah, muda menjadi tua, kulit semakin kendur dan sebagainya.

Ada 3 kategori manusia dalam menghadapi kematian:
Pertama : Bila teringat akan mati, terasa lapang hatinya. Hatinya menjadi suka. Kelompok manusia dalam kategori ini ialah mereka yang benar-benar berilmu dan telah penuh keimanannya terhadap Allah dan hari akhirat. Mereka telah mencapai makrifat terhadap Allah. Ini ialah maqam tertinggi yang dimiliki oleh para wali.

Kedua: Apabila teringat mati, hatinya menjadi takut, kecut dan gementar. Mereka ialah orang-orang kafir yang tidak sanggup berjumpa dengan Allah. Mereka seumpama binatang-binatang liar kepunyaan seseorang. Apabila tuannya hendak mengambilnya, dia cuba melarikan diri tetapi dapat ditangkap secara paksaan. Kematian mereka amat menghinakan.

Ketiga: Golongan ini merasa dukacita dan takut terhadap kematian. Tetapi apabila telah mengalami mati, dia berasa sukacita. Malahan jika diberi pilihan, mereka tidak akan mahu kembali ke dunia semula. Mereka telah dapat mengecapi dan menikmati alam yang lebih kekal dan lebih baik daripada alam fana yang penuh dengan kesusahan dan kesengsaraan. Golongan ini ibarat seorang bayi yang baru lahir dari perut ibunya. Semasa akan keluar, bayi akan menangis kerana menyangka hidup di dalam perut ibunya lebih baik dan nyaman daripada alam dunia. Tetapi apabila telah lahir di dunia ini, dia tidak akan mahu kembali ke dalam perut ibunya meskipun diberi pilihan. Manusia yang termasuk dalam golongan ini ialah orang-orang beriman yang belum mencapai taraf tinggi atau orang mukmin biasa.

Marilah kita berlumba-lumba mencari bekalan untuk akhirat. Janganlah kita asyik berlumba-lumba mencari bekalan dunia sehingga terlupa pertemuan kita dengan Allah. Kematian hanya penghijrahan atau perpindahan alam; berpindah dari negeri binasa ke negeri yang kekal abadi. Allah telah menghantar banyak notis kepada kita dan jadikanlah ia sebagai cemeti untuk menyedarkan diri tentang kematian yang sudah tentu akan menemui kita. Wallahu 'Alam.

6.18.2009

Kisah didalam kubur


RASULULLAH S.A.W bersabda: "Apabila si mati dikuburkan….., datanglah kepadanya dua Malaikat hitam legam, lagi biru (matanya), salah satu di antaranya disebut dengan nama "Munkar" dan yang satu lagi disebut dengan nama "Nakir".

Lalu keduanya mendudukan si mati itu setelah dikembalikan rohnya ke dalam jasadnya) kemudian mereka menyoalnya:"Apa yang pernah engkau katakan mengenai orang ini (Muhammad s.a.w)?" (dan pada satu riwayat oleh Abu Daud: Mereka bertanya kepadanya: "Apa yang engkau pernah sembah?"

Maka kalau Allah memberi hidayah pertunjuk kepadanya, ia akan menjawab dengan berkata: "Aku menyembah Allah!" Kemudian ia ditanya lagi: "Apa yang engkau pernah katakan mengenai orang ini (Muhammad s.a.w)?" (Dan pada satu riwayat yang lain, oleh Abu Daud juga: Mereka menyoalnya dengan berkata: "Siapa Tuhanmu?."

Ia menjawab: "Tuhanku ialah Allah!" Mereka bertanya lagi: "Apa agama mu?" Ia menjawab: "Agamaku ialah Islam!" Mereka bertanya lagi: "Siapa dia orang yang telah diutuskan dalam kalangan kamu)?" Maka kalau si mati seorang yang beriman, ia akan menjawab dengan berkata: "Orang itu (Muhammad s.a.w) ialah hamba Allah dan RasulNya, aku mengetahui serta meyakini bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahawa sesungguhnya Muhammad itu ialah hamba Allah dan RasulNya!"

Mereka berkata kepadanya: "Kami sedia mengetahui bahawa engkau mengakui yang demikian"; (Dan pada satu riwayat oleh Abu Daud bahawa Baginda s.a.w bersabda: "Lalu diseru oleh penyeru dari langit katanya: "Sungguh benar hamba-Ku, maka bentangkanlah kepadanya satu hamparan dari Syurga, dan pakaikanlah dia pakaian dari Syurga, serta bukakanlah baginya sebuah pintu ke Syurga". "Rasulullah s.a.w bersabda lagi: "Lalu datang kepadanya sebahagian dari bau Syurga dan keharumannya ); kemudian dilapangkan kuburnya seluas tujuh puluh hasta persegi, dan diberikan cahaya yang menerangi kuburnya; kemudian dikatakan kepadanya: "Tidurlah!" Lalu ia berkata: "Bolehkah aku balik kepada keluargaku supaya dapat aku ceritakan kebaikan halku?" Dua Malaikat itu berkata kepadanya: "Tidurlah seperti tidurnya pengantin yang tidak dibangkitkan dari tidurnya melainkan sekasih-kasih ahlinya; Demikianlah halnya sehingga ia dibangkitkan Allah dari tempat baringnya itu. Jika si mati itu seoarang munafik, ia menjawab pertanyaan Malaikat itu dengan katanya: "Aku dengar orang berkata demikian, maka aku pun turut berkata sama; aku tidak tahu benarkah atau tidak". Lalu dua Malaikat itu berkata: "Memang kami tahu engkau berkata demikian"; (dan menurut satu riwayat oleh Abu Daud: "Lalu diseru oleh penyeru dari langit katanya: "Sesungguhnya orang itu berdusta maka bentangkanlah kepadanya satu hamparan dari Neraka, dan pakaikanlah dia dari Neraka, serta bukakanlah baginya sebuah pintu ke Neraka". Rasulullah s.a.w. bersabda lagi: "Lalu datang kepadanya sebahagian dari bahang Neraka dan udara panasnya) kemudian diperintahkan bumi supaya mengapitnya lalu bumi mengapitnya sehingga berselisih tulang-tulang rusuknya, maka tinggallah ia dalam azab itu terus menerus ke masa Allah bangkitkan dia dari kuburnya."(Abu Hurairah r.a) Huraian

Rasulullah s.a.w bersabda: "Apabila si mati dikuburkan….., datanglah kepadanya dua Malaikat hitam legam, lagi biru (matanya), salah satu di antaranya disebut dengan nama "Munkar" dan yang satulagi disebut dengan nama "Nakir", (lalu keduanya mendudukan si mati itu setelah dikembalikan rohnya ke dalam jasadnya) kemudian mereka menyoalnya:"Apa yang pernah engkau katakan mengenai orang ini (Muhammad s.a.w)?" (dan pada satu riwayat oleh Abu Daud: Mereka bertanya kepadanya: "Apa yang engkau pernah sembah?" Maka kalau Allah memberi hidayah pertunjuk kepadanya, ia akan menjawab dengan berkata: "Aku menyembah Allah!"

Kemudian ia ditanya lagi: "Apa yang engkau pernah katakan mengenai orang ini (Muhammad s.a.w)?" (Dan pada satu riwayat yang lain, oleh Abu Daud juga: Mereka menyoalnya dengan berkata: "Siapa Tuhanmu?" Ia menjawab: "Tuhanku ialah Allah!" Mereka bertanya lagi: "Apa agama mu?" Ia menjawab: "Agamaku ialah Islam!" Mereka bertanya lagi: "Siapa dia orang yang telah diutuskan dalam kalangan kamu)?"

Maka kalau si mati seorang yang beriman, ia akan menjawab dengan berkata: "Orang itu (Muhammad s.a.w) ialah hamba Allah dan RasulNya, aku mengetahui serta meyakini bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahawa sesungguhnya Muhammad itu ialah hamba Allah dan RasulNya!" Mereka berkata kepadanya: "Kami sedia mengetahui bahawa engkau mengakui yang demikian"; Dan pada satu riwayat oleh Abu Daud bahawa Baginda s.a.w bersabda: "Lalu diseru oleh penyeru dari langit katanya: "Sungguh benar hamba-Ku, maka bentangkanlah kepadanya satu hamparan dari Syurga, dan pakaikanlah dia pakaian dari Syurga, serta bukakanlah baginya sebuah pintu ke Syurga".

"Rasulullah s.a.w bersabda lagi: "Lalu datang kepadanya sebahagian dari bau Syurga dan keharumannya ); kemudian dilapangkan kuburnya seluas tujuh puluh hasta persegi, dan diberikan cahaya yang menerangi kuburnya; kemudian dikatakan kepadanya: "Tidurlah!" Lalu ia berkata: "Bolehkah aku balik kepada keluargaku supaya dapat aku ceritakan kebaikan halku?" Dua Malaikat itu berkata kepadanya: "Tidurlah seperti tidurnya pengantin yang tidak dibangkitkan dari tidurnya melainkan sekasih-kasih ahlinya; Demikianlah halnya sehingga ia dibangkitkan Allah dari tempat baringnya itu.

Jika si mati itu seoarang munafik, ia menjawab pertanyaan Malaikat itu dengan katanya: "Aku dengar orang berkata demikian, maka aku pun turut berkata sama; aku tidak tahu benarkah atau tidak".

Lalu dua Malaikat itu berkata: "Memang kami tahu engkau berkata demikian"; (dan menurut satu riwayat oleh Abu Daud: "Lalu diseru oleh penyeru dari langit katanya: "Sesungguhnya orang itu berdusta maka bentangkanlah kepadanya satu hamparan dari Neraka, dan pakaikanlah dia dari Neraka, serta bukakanlah baginya sebuah pintu ke Neraka".

Rasulullah s.a.w. bersabda lagi: "Lalu datang kepadanya sebahagian dari bahang Neraka dan udara panasnya) kemudian diperintahkan bumi supaya mengapitnya lalu bumi mengapitnya sehingga berselisih tulang-tulang rusuknya, maka tinggallah ia dalam azab itu terus menerus ke masa Allah bangkitkan dia dari kuburnya."

;;